๐Ÿฆ Ucapan Yang Baik Akan Membawa Kepada Akhlak

Lebahtidak pernah mematahkan ranting yang ia hinggapi, karena lebah hewan yang lembut. Pun muslim dengan kepribadian lebah. Dia tidak akan melakukan perbuatan yang bersikap destruktif dan merugikan. Baik merugikan diri sendiri, kelompok/ jamaah, keluarga, tetangga dan masyarakat. Ia akan menjaga tingkah polahnya. Akaljuga boleh membawa manusia ke keruntuhan akhlak dan kemudaratan pada diri from ELC 231 at Universiti Teknologi Mara AllahI berfirman: โ€œHai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang baik. Niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalan kalian dan akan mengampuni dosa-dosa kalian.โ€ (Al-Ahzab: 70-71) โ€œUcapan yang baik dan suka memberi maaf adalah lebih baik dari shadaqah yang dibarengi dengan menyakiti.โ€ (Al Secaraistilah, jujur atau as-sidqu bermakna: (1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan; (2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan; (3) ketegasan dan kemantapan hati; dan. (4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri kedustaan. Jujur adalah sikap atau sifat seseorang yang menyatakan sesuatu degan sesungguhnya dan apa adanya, tidak di tambahi NabiMuhammad SAW adalah seorang manusia pilihan yang patut dicontoh dan diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Al-Qurโ€™an beliau mendapatkan sebutan โ€œUswatun Hasanahโ€ (suri tauladan yang baik). Sedikit demi sedikit Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat dengan cara menanamkan akhlak mulia dan beriman hanya kepada Allah SWT. 24 Nasib bangsa kita akan berubah jika kita berjuang. Selamat Hari Kemerdekaan. 25. Semua perbedaan akan membuat Indonesia unik. Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia. 26. Jika kita tak dapat memberikan yang terbaik untuk bangsa, maka kita harus memiliki akhlak yang baik. Selamat Hari Kemerdekaan. 27. DemikianlahKami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur." (Al- Aโ€™raf: 58) Akhlaq yang mulia adalah matlamat utama bagi ajaran Islam. Ini telah dinyatakan oleh Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam dalam hadisnya (yang bermaksud, antara lain: "Sesungguhnya aku diutuskan hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang Karenakami akan menyediakan koleksi ucapan ulang tahun yang baik untuk anak perempuan. Kirimkan/ sampaikan ucapan ultah ini kepada putri anda dan buatlah dia terkejut dan bahagia. Semoga kamu memiliki ilmu dan akhlak yang baik kedepannya. Dan dapat menggapai semua mimpi, cita-cita dalam hidupmu, serta memiliki ulang tahun yang Jujurkepada Allah diwujudkan adanya rasa pengharapan, cinta dan tawakal pada setiap niat, ucapan perbuatan. Jujur kepada Allah dapat berupa tindakan ikhlas di dalam melakukan seluruh kewajiban yang ditentukan Allah dengan harapan mendapat ridhonya. b. Percaya Diri Akhlak yang kedua dari pribadi islami adalah percaya atau rendah hati (Tawadhu). . ALLAH Subhanahu Wataโ€™ala telah berfirman, โ€œSungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.โ€ QS, Al-Ahzab, 33 21. Dan dalam firman-Nya yang lain, โ€œDan Kami tidak mengutus engkau Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.โ€ QS. Al-Anbiyaa, 21 107. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, โ€œSesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.โ€ HR. Al-Bazzaar. Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad Saw. bersabda, โ€œAda dua watak yang keduanya tidak boleh berada dalam diri seorang mukmin yaitu, kikir dan akhlak yang buruk.โ€ HR. Bukhari. Kikir dan akhlak yang buruk merupakan sifat yang sangat tercela. Maka, orang mukmin harus menjauhkan diri dari keduanya, karena kedua sifat tersebut adalah sifat buruk. Akhlak adalah tabiat, watak, harga diri dan agama. Akhlak ialah kesatriaan, kebiasaan, perangai. Hakikat akhlak adalah untuk menata dan mengatur perilaku manusia, dan gambaran batin seseorang, yang meliputi jiwa, sifat-sifat jiwa dan makna-makna khusus dari jiwa tersebut. Jadi akhlak adalah yang mencerminkan perbuatan lahir seseorang dan akhlak mempunyai sifat baik dan buruk. Maka pengertian akhlak adalah keadaan pada diri seorang yang ditampakkan dalam perbuatannya, baik atau buruk secara spontan tanpa melewati pikiran. Allah Swt. menetapkan akhlak untuk mengatur perilaku manusia, supaya mereka dapat bergaul dengan sesamanya dalam bentuk yang akan mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi mereka di dunia, dan juga keridhaan Allah Swt. di akhirat. Akhlak mulia bukanlah sekedar taktik yang bersifat sementara, melainkan suatu sikap yang terus menerus. Yang pertama-tama dituntut oleh akhlak adalah dibersihkannya diri dari segala macam keburukan yang melekat padanya, dan kemudian mendahulukan perbuatan memberi kepada sesama manusia daripada meminta, baik itu berkenaan dengan masalah-masalah maknawi maupun masalah-masalah materi. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, โ€œAda tiga perkara, barang siapa ketiganya berada dalam dirinya ia pasti mendapat pahala dan keimanan yang sempurna, yaitu akhlak yang baik yang disandangnya dalam kehidupan bermasyarakat; sifat waraโ€™ berhati-hati yang mencegahnya dari hal-hal yang diharamkan Allah Swt. dan sifat penyantun yang membuatnya memaafkan kebodohan orang yang jahil terhadap dirinya.โ€ HR. al-Bazzar melalui Anas Wara; adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat, terlebih lagi dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Al Hilmu , adalah sifat penyantun atau berlapang dada bila menghadapi orang-orang yang tidak mengerti. Yang dimaksud dengan Khuluqun ialah menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dalam bergaul dengan orang-orang. Barang siapa yang ingin mendapat pahala dan iman yang sempurna, hendaknya kita mengamalkan ketiga hal tersebut. Dari sini tampaklah bahwa akhlak merupakan sesuatu yang melekat dalam diri seseorang, bukan sesuatu yang tampak secara lahirnya, maka akhlak berhubungan dengan batin seorang, supaya akhlak itu diketahui oleh orang lain, maka harus ditunjukkan lewat perbuatan yang nyata, yaitu perilaku. Jadi perilaku adalah pengejawentahan dari akhlak seseorang. Untuk mengetahui akhlak seseorang, maka perlu melihat perilaku kesehariannya, karena perilaku keseharian seseorang adalah dalil, dan tanda dan bukti akhlak yang dimilikinya. Apabila perilaku kesehariannya baik maka, hal itu menunjukkan kebaikan akhlaknya, begitu juga sebaliknya apabila perilakunya buruk, maka akhlaknya pun buruk. Akhlak yang baik dalam kehidupan muslim secara umum dan dalam berkhidmat kepada Allah khususnya adalah tali keimanan yang kuat dan derajat keimanan yang tertinggi. Sebagaimana sabda Nabi Saw, โ€œOrang-orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang akhlaknya paling mulia.โ€ HR. Thobrani melalui Ibnu Umar Akhlak yang mulia adalah keharusan social bagi seluruh masyarakat. Karena barang siapa berakhlak mulia, maka dialah yang paling dicintai Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda, โ€œSesungguhnya Allah Swt. Maha Pemurah, Dia mencintai sifat pemurah, dan Dia mencintai akhlak yang mulia serta membenci akhlak yang rendah.โ€ HR. Naโ€™im melalui Ibnu Abbas Akhlak yang baik menjadikan seorang menjadi sebaik-baiknya manusia. Nabi Saw bersabda, โ€œSesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian ialah orang yang paling baik akhlaknya.โ€™ HR. Thabrani melalui Ibnu Umar Akhlak yang baik dapat mengangkat pelakunya ke dalam golongan orang-orang yang baik. Dalam hadits yang lain dinyatakan bahwa, โ€œOrang-orang yang terpilih di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.โ€ HR. Bukhari dan Muslim. Hadits ini menjelaskan bahwa seseorang di nilai dari akhlaknya, apabila akhlaknya baik maka ia termasuk orang yang baik, dan apabila akhlaknya buruk, maka ia termasuk orang yang buruk. Akhlak yang baik adalah bagian dari ibadah, anugerah dan pemberian yang paling agung. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, โ€œTidak ada amal yang bisa memberatkan timbangan seseorang di hari kiamat nanti melainkan akhlak yang baik.โ€ HR. Abu Dawud dan Ahmad. Beliau Saw. bersabda lagi, โ€œKemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya kehormatannya adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.โ€ HR. Ahmad dan Al-Hakim. Dan dalam hadits yang lain Beliau bersabda, โ€œAllah menyayangi orang yang bersikap lapang dada toleran, baik ketika menjual, membeli, atau ketika menagih sesuatu kepada orang lain.โ€ HR. Bukhari. Beliau Saw. berlanjut mengatakan, โ€œSebaik-baik kalian dalam hal keislaman adalah yang paling baik akhlaknya, dengan syarat juga memiliki pemahaman yang baik tentang ajaran-ajaran agama.โ€ HR. Ahmad. Dan dalam Sabdanya yang lain, โ€œSebaik-baik anugerah yang diberikan kepada manusia adalah akhlak yang baik, dan seburuk-buruk yang diberikan kepada manusia adalah hati yang buruk pada rupa yang baik.โ€ HR. Usamah ibnu Suraikh. Tiada suatu hal pun yang lebih indah dalam diri seseorang selain dari akhlak yang mulia, dan tiada yang lebih buruk dalam diri seseorang selain dari akhlak yang jahat. Berakhlak mulia merupakan salah satu penyebab utama agar seseorang bisa terlepas dari api neraka, dan menjadi penyebab utama dalam memperoleh derajat yang tinggi di dalam surga. Dan itu adalah tujuan terakhir setiap muslim setelah tujuan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, โ€œAkhlak yang mulia itu ada sepuluh macam, terkadang semuanya terdapat dalam diri seseorang tetapi tidak terdapat dalam diri anaknya; terkadang semuanya terdapat dalam diri seorang anak, tetapi tidak terdapat dalam diri ayahnya; terkadang semuanya terdapat dalam diri seorang hamba, tetapi tidak terdapat dalam diri tuannya. Allah membagikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya hidup behagia. Yaitu Jujur dalam berbicara, pemberani dalam medan perang, selalu memberi orang yang meminta, selalu membalas perbuatan baik, memelihara amanat, bersilatuhami; memelihara hak-hak tetangga dan teman, menghormati tamu; dan yang paling utama di antara kesemuanya adalah malu.โ€ melalui Aisyah Nabi Muhammad Saw. menjamin orang yang berakhlak baik akan menempati surga yang paling tinggi, Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, โ€œAku adalah pemimpin di sebuah rumah di dalam surga nanti yang diperuntukan bagi orang yang meninggalkan perdebatan, walaupun orang tersebut berada di pihak yang benar. Aku pemimpin di dalam rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta, walaupun hanya untuk bermain-main. Aku pemimpin di sebuah rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang memiliki akhlak yang baik.โ€ Nabi Saw. pernah ditanya mengenai perihal mengapa banyak manusia masuk ke dalam surga. Sabda Rasulullah Saw, โ€œBertaqwa kepada Allah dan berakhlak baikโ€. HR. Attirmidzi dan Ibnu Hiban. Dalam sebuah hadist yang lain Beliau bersabda, โ€œSesungguhnya api neraka akan terhalang untuk membakar dari setiap orang yang beribadah, pemaaf dan pemurah.โ€ HR. Ahmad. Akhlak yang mulia menimbulkan kecintaan manusia, dan memperkuat kasih sayang. Inilah rahasia mengapa orang-orang yang berakhlak mulia selalu dicintai dan dikelilingi manusia. Khalifahur Rasidun ke empat Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa Akhlak yang baik melahirkan kecintaan dan memperkuat kasih sayang, barang siapa yang baik akhlaknya maka banyak yang mencintainya, dan manusia senang kepadanya. Barangsiapa yang buruk akhlaknya maka teman dan sahabatnya akan membiarkannya menjadi miskinโ€. Wallahu Aโ€™lam bish Shawab. Diningrat * Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung. * Anggota PB Al Washliyah Jakarta. * Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat. Dari An Nawas bin Samโ€™an radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabdaุงู„ุจุฑ ุญุณู† ุงู„ุฎู„ู‚โ€œKebajikan itu keluhuran akhlaqโ€[1]Hadits ini memiliki beberapa kandungan sebagai berikutHadits ini menunjukkan urgensi akhlak dalam agama ini, karena nabi shallallahu alaihi wa sallam memberitakan bahwa seluruh kebajikan terdapat dalam keluhuran akhlak. Dengan demikian, seorang yang baik adalah seorang yang luhur Ibnu Rajab al Hambali rahimahullah menjelaskan makna kata al birr kebajikan yang terdapat dalam hadits di atas. Beliau berkata,ู…ู† ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุจุฑ ุฃู† ูŠุฑุงุฏ ุจู‡ ูุนู„ ุฌู…ูŠุน ุงู„ุทุงุนุงุช ุงู„ุธุงู‡ุฑุฉ ูˆุงู„ุจุงุทู†ุฉ ูƒู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆู„ูƒู† ุงู„ุจุฑ ู…ู† ุขู…ู† ุจุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุขุฎุฑ ูˆุงู„ู…ู„ุงุฆูƒุฉ ูˆุงู„ูƒุชุงุจ ูˆุงู„ู†ุจูŠูŠู† ูˆุขุชู‰ ุงู„ู…ุงู„ ุนู„ู‰ ุญุจู‡ ุฐูˆูŠ ุงู„ู‚ุฑุจู‰ ูˆุงู„ูŠุชุงู…ู‰ ูˆุงู„ู…ุณุงูƒูŠู† ูˆุงุจู† ุงู„ุณุจูŠู„ ูˆุงู„ุณุงุฆู„ูŠู† ูˆููŠ ุงู„ุฑู‚ุงุจ ูˆุฃู‚ุงู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุขุชู‰ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ูˆุงู„ู…ูˆููˆู† ุจุนู‡ุฏู‡ู… ุฅุฐุง ุนุงู‡ุฏูˆุง ูˆุงู„ุตุงุจุฑูŠู† ููŠ ุงู„ุจุฃุณุงุก ูˆุงู„ุถุฑุงุก ูˆุญูŠู† ุงู„ุจุฃุณ ุฃูˆู„ุฆูƒ ุงู„ุฐูŠู† ุตุฏู‚ูˆุง ูˆุฃูˆู„ุฆูƒ ู‡ู… ุงู„ู…ุชู‚ูˆู†[Diantara makna al birr adalah mengerjakan seluruh ketaatan, baik secara lahir maupun batin. Makna seperti ini tertuang dalam firman Allah taโ€™ala,ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุงู„ู’ุจูุฑูŽู‘ ุฃูŽู†ู’ ุชููˆูŽู„ูู‘ูˆุง ูˆูุฌููˆู‡ูŽูƒูู…ู’ ู‚ูุจูŽู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุดู’ุฑูู‚ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุฑูุจู ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุจูุฑูŽู‘ ู…ูŽู†ู’ ุขู…ูŽู†ูŽ ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุขุฎูุฑู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ูŠู†ูŽ ูˆูŽุขุชูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูุจูู‘ู‡ู ุฐูŽูˆููŠ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุจูŽู‰ ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽุชูŽุงู…ูŽู‰ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงูƒููŠู†ูŽ ูˆูŽุงุจู’ู†ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ุจููŠู„ู ูˆูŽุงู„ุณูŽู‘ุงุฆูู„ููŠู†ูŽ ูˆูŽูููŠ ุงู„ุฑูู‘ู‚ูŽุงุจู ูˆูŽุฃูŽู‚ูŽุงู…ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉูŽ ูˆูŽุขุชูŽู‰ ุงู„ุฒูŽู‘ูƒูŽุงุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ููˆูููˆู†ูŽ ุจูุนูŽู‡ู’ุฏูู‡ูู…ู’ ุฅูุฐูŽุง ุนูŽุงู‡ูŽุฏููˆุง ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ุงุจูุฑููŠู†ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุฃู’ุณูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุถูŽู‘ุฑูŽู‘ุงุกู ูˆูŽุญููŠู†ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุฃู’ุณู ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุตูŽุฏูŽู‚ููˆุง ูˆูŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูุชูŽู‘ู‚ููˆู†ูŽ ูกูงูงโ€œBukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. MerekaiItulah orang-orang yang benar imannya; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.โ€ Al Baqarah 177.][2]Dari penjelasan Ibnu Rajab dan teks ayat dalam surat Al Baqarah tersebut, kita dapat memahami dengan jelas bahwa yang dinamakan kebajikan al birr turut mencakup keimanan yang benar terhadap Allah, mengerjakan perintah-Nya dan tentunya meninggalkan larangan-Nya, serta berbuat kebajikan terhadap sesama makhluk juga bisa menyatakan, โ€“ berdasarkan hadits An Nawwas radhiallahu anhu di atas-, bahwa seorang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, mengerjakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan berbuat kebajikan terhadap sesama adalah seorang yang berakhlak luhur, karena nabi shallallahu alaihi wa sallam mendefinisikan al birr dengan keluhuran akhlak, dan pada ayat 177 surat Al Baqarah di atas Allah menjabarkan berbagai macam bentuk al kata lain, seorang yang berakhlak luhur adalah seorang yang mampu berakhlak baik terhadap Allah taโ€™ala dan sesamanya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,ุญูุณู’ู† ุงู„ู’ุฎูู„ูู‚ ู‚ูุณู’ู…ูŽุงู†ู ุฃูŽุญูŽุฏู‡ู…ูŽุง ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘ ุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู… ุฃูŽู†ูŽู‘ ูƒูู„ู‘ ู…ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู† ู…ูู†ู’ูƒ ูŠููˆุฌูุจ ุนูุฐู’ุฑู‹ุง ุŒ ูˆูŽูƒูู„ู‘ ู…ูŽุง ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ู…ูู†ู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ูŠููˆุฌูุจ ุดููƒู’ุฑู‹ุง ุŒ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุฒูŽุงู„ ุดูŽุงูƒูุฑู‹ุง ู„ูŽู‡ู ู…ูุนู’ุชูŽุฐูุฑู‹ุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุณูŽุงุฆูุฑู‹ุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุจูŽูŠู’ู† ู…ูุทูŽุงู„ูŽุนูŽุฉ ูˆูŽุดูู‡ููˆุฏ ุนูŽูŠู’ุจ ู†ูŽูู’ุณูƒ ูˆูŽุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูƒ .ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูุณู’ู… ุงู„ุซูŽู‘ุงู†ููŠ ุญูุณู’ู† ุงู„ู’ุฎูู„ูู‚ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณ .ูˆูŽุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉ ุฃูŽู…ู’ุฑูŽุงู†ู ุจูŽุฐู’ู„ ุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆู ู‚ูŽูˆู’ู„ู‹ุง ูˆูŽููุนู’ู„ู‹ุง ุŒ ูˆูŽูƒูŽูู‘ ุงู„ู’ุฃูŽุฐูŽู‰ ู‚ูŽูˆู’ู„ู‹ุง ูˆูŽููุนู’ู„ู‹ุง[Keluhuran akhlak itu terbagi dua. Pertama, akhlak yang baik kepada Allah, yaitu meyakini bahwa segala amalan yang anda kerjakan mesti mengandung kekurangan/ketidaksempurnaan sehingga membutuhkan udzur dari-Nya dan segala sesuatu yang berasal dari-Nya harus disyukuri. Dengan demikian, anda senantiasa bersyukur kepada-Nya dan meminta maaf kepada-Nya serta berjalan kepada-Nya sembari memperhatikan dan mengakui kekurangan diri dan amalan anda. Kedua, akhlak yang baik terhadap sesama. kuncinya terdapat dalam dua perkara, yaitu berbuat baik dan tidak mengganggu sesama dalam bentuk perkataan dan perbuatan].[3]Terdapat persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa makna keluhuran akhlak akhlakul karimah terbatas pada interaksi sosial yang baik dengan sesama. Hal ini kurang tepat, karena menyempitkan makna akhlakul karimah, silahkan anda lihat kembali penjelasan di terkadang terdapat selentingan perkataan yang terkadang terucap dari seorang muslim, yang menurut kami cukup fatal, seperti perkataan, โ€œSi fulan yang non muslim itu lebih baik daripada fulan yang muslimโ€ atau ucapan semisal. Ucapan ini terlontar tatkala melihat kekurangan akhlak pada saudaranya sesama muslim, kemudian dia membandingkan saudaranya tersebut dengan seorang kafir yang memiliki interaksi sosial yang baik dengan itu cukup fatal karena seorang muslim yang bertauhid kepada Allah, betapa pun buruk akhlaknya, betapapun besar dosa yang diperbuat, tetaplah lebih baik daripada seorang kafir, yang berbuat syirik kepada Allah taโ€™ala. Hal ini mengingat dosa syirik menduduki peringkat teratas dalam daftar yang memiliki interaksi sosial yang baik terhadap sesama, namun dia tidak menyembah Allah atau tidak menauhidkannya dalam segala bentuk peribadatan yang dilakukannya, maka dia masih dikategorikan sebagai seorang yang berahlak demikian? Hal itu dikarenakan dia tidak merealisasikan pondasi keluhuran akhlak, yaitu berakhlak yang baik kepada sang Khalik yang telah mencurahkan berbagai nikmat kepada dirinya dan seluruh makhluk. Dan bentuk akhlak yang baik kepada Allah adalah dengan menauhidkan-Nya dalam segala peribadatan, karena tauhid merupakan hak Allah kepada setiap hamba-Nya sebagaimana dinyatakan dalam hadits Muโ€™adz bin Jabal radhiallahu anhu.[4]Hal ini pun dipertegas dalam hadits Aisyah radhiallahu anhu. Beliau bertanya kepada rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, [Wahai rasulullah! Ibnu Judโ€™an, dahulu di zaman jahiliyah, adalah seorang yang senantiasa menyambung tali silaturahim dan memberi makan orang miskin, apakah itu semua bermanfaat baginya kelak di akhirat? Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab,ู„ุงูŽ ูŠูŽู†ู’ููŽุนูู‡ู ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู‚ูู„ู’ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ุฑูŽุจูู‘ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูู‰ ุฎูŽุทููŠุฆูŽุชูู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ูโ€œHal itu tidak bermanfaat baginya karena dia tidak pernah sedikit pun mengucapkan, โ€œWahai Rabb-ku, ampunilah dosa-dosaku di hari kiamat kelak.โ€][5]Ibnu Judโ€™an adalah seorang yang memiliki akhlak yang baik kepada sesama manusia, meskipun demikian, keluhuran akhlaknya kepada manusia tidak mampu menyelamatkannya dikarenakan dia tidak menegakkan pondasi akhlak, yaitu akhlak yang baik kepada Allah dengan beriman dan bertauhid disebutkan di atas bahwa bentuk akhlak yang baik kepada Allah adalah dengan menauhidkan-Nya. Berdasarkan hal ini kita bisa menyatakan bahwa seorang yang mempersekutukan Allah dalam peribadatannya berbuat syirik adalah seorang yang berakhlak buruk, meski dia dikenal sebagai pribadi yang baik kepada pula, kita bisa menyatakan dengan lebih jelas lagi bahwa seorang yang dikenal akan kebaikannya kepada sesama manusia, jika dia berbuat syirik seperti memakai jimat[6], mendatangi dukun[7], menyembelih untuk selain Allah[8], mendatangi kuburan para wali untuk meminta kepada mereka[9], maka dia adalah seorang yang berakhlak dari penjelasan di atas, kita bisa memahami perkataan Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah rahimahullah berikut,ุงู„ุฐู†ูˆุจ ู…ุน ุตุญุฉ ุงู„ุชูˆุญูŠุฏ ุฎูŠุฑ ู…ู† ูุณุงุฏ ุงู„ุชูˆุญูŠุฏ ู…ุน ุนุฏู… ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฐู†ูˆุจ[โ€œBerbagai dosa yang terdapat pada diri seorang, namun masih dibarengi dengan tauhid yang benar itu masih lebih baik daripada tauhid yang rusak meskipun tidak dibarengi dengan berbagai dosa.โ€][10]Jangan dipahami bahwa beliau mengenyampingkan atau menganggap ringan perbuatan dosa dengan perkataan tersebut. Namun, beliau menerangkan bahwa perbaikan tauhid dengan menjauhi kesyirikan merupakan proritas pertama yang harus diperhatikan oleh kita sebelum menjauhi berbagai bentuk dosa lain yang tingkatannya berada di bawah dosa lain dari penyempitan makna akhlak sebagaimana dikemukakan di atas adalah anggapan bahwa akhlak yang baik kepada manusia itu lebih penting daripada tauhid. Akibatnya, rata-rata materi dakwah para daโ€™i adalah berkutat pada upaya menyeru manusia untuk berbuat baik pada sesamanya dan menomorduakan dakwah tauhid, kalau tidak mau dikatakan bahwa mereka memang tidak pernah menyampaikan materi tauhid kepada madโ€™ ini tidak lain disebabkan karena mereka belum mengetahui definisi akhlak yang disebutkan oleh para ulama seperti yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Rajab dan Ibnul Qayyim rahimahumallah di atas. Sehingga, tatkala mereka membaca hadits-hadits nabi seperti, โ€œ Kebajikan itu keluhuran akhlaq โ€œ; โ€œTidak ada amalan yang lebih berat apabila diletakkan di atas mizan daripada akhlak yang baik.โ€; โ€œApa karunia terbaik yang diberikan kepada hamba?, nabi menjawab. โ€œAkhlak yang baik.โ€, mereka berkeyakinan bahwa hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa berakhlak baik kepada sesama lebih tinggi derajatnya daripada menauhidkan Allah taโ€™ala secara akhir artikel ini, kami kembali mengingatkan bahwa akhlak yang baik kepada Allah, itulah yang harus menjadi fokus perhatian dalam pembenahan diri kita, dan yang menjadi fokus utama adalah bagaimana kita berusaha membenahi tauhid kita kepada Allah. Jika kita memiliki interaksi yang baik dengan-Nya, dengan menauhidkan-Nya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, niscaya Allah taโ€™ala akan memudahkan kita untuk berinteraksi yang baik baca berakhlak yang baik dengan sesama. Itulah makna yang kami pahami dari sabda nabi shallallahu alaihi wa sallam,ู…ู† ุงู„ุชู…ุณ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุจุณุฎุท ุงู„ู†ุงุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูˆุฃุฑุถู‰ ุงู„ู†ุงุณ ุนู†ู‡ ูˆู…ู† ุงู„ุชู…ุณ ุฑุถุง ุงู„ู†ุงุณ ุจุณุฎุท ุงู„ู„ู‡ ุณุฎุท ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุฃุณุฎุท ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู†ุงุณ[โ€œBarangsiapa mencari ridha Allah meski dengan mengundang kemurkaan manusia, niscaya Allah akan ridha kepadanya dan akan membuat manusia juga ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan mengundang kemurkaan Allah, niscaya Allah akan murka kepadanya dan akan membuat manusia turut murka kepadanya.โ€][11]Waffaqaniyallahu wa dari al Mauโ€™izhatul Hasanah fil Akhlaqil Hasanah karya Syaikh Abdul Malik RamadhaniBuaran Indah, Tangerang, Banten 29 Jumadits Tsani 1431 Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel HR. Muslim 2553.[2] Jamiโ€™ul Ulum wal Hikam hlm. 252-253. Asy Syamilah.[3] Tahdzibus Sunan sebagaimana tertera dalam catatan kaki Aunul Maโ€™bud 13/91.[4] HR. Bukhari 5912; Muslim 30.[5] HR. Muslim 214.[6] Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, โ€œBarangsiapa yang memakai jimat, sungguh dia telah berbuat syirik.โ€ HR. Ahmad 17458.[7] Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, โ€œBarangsiapa mendatangi dukun lalu membenarkan perkataannya, atau mengauli istrinya yang sedang haidh, menyetubuhi dubur istrinya, maka sesungguhnya dia telah berlepas diri dari ajaran yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.โ€ HR. Abu Dawud 3408; Tirmidzi 135; dan selain mereka.[8] Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, โ€œAllah melaknat orang yang menyembelih baca memberikan sesajen untuk selain Allah.โ€ HR. Muslim 1978.[9] Allah taโ€™ala berfirman mengenai ucapan orang-orang musyrik, yang artinya, โ€œDan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata โ€œMereka itu adalah pemberi syafaโ€™at kepada Kami di sisi Allah.โ€ Yunus 18.[10] Al Istiqamah 1/466; Asy Syamilah.[11] HR. Ibnu Hibban 276. MADINAH - Masa kepulangan jamaah haji Indonesia hampir mendekati akhir. Hingga kemarin lebih dari 80% atau sebanyak jamaah atau telah kembali ke Indonesia. Mereka diharapkan menjadi insan kamil yang mampu membawa akhlak bangsa jauh lebih baik dalam etika, ibadah, dan ini disampaikan Kepala Daerah Kerja Daker Bandara Jeddah-Madinah, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji PPIH 2019, Arsyad Hidayat, Selasa 10/9/2019. Menurutnya, ibadah haji bukan sekedar runtutan ibadah di Tanah Suci tapi juga menghasilkan konsekuensi setelahnya yakni menjadi haji mabrur yang dicirikan dengan memberikan makan atau bersedekah dan menyebarkan perdamaian atau memiliki ucapan-ucapan yang baik."Saya kira ini tujuan dari haji, menjadi insan kamil, manusia yang sempurna etikanya, kedekatan dirinya kepada Allah SWT, kemudian hubungan horizontal dengan sesama manusia, baik seagama atau pun umat manusia secara umum," kata jamaah haji yang terus meningkat setiap tahun, kata Arsyad, semestinya berbanding lurus dengan akhlak atau budi pekerti bangsa. Jamaah mampu mengimplementasikan kemabruran hajinya di lingkungannya masing-masing sehingga tercipta suatu masyarakat yang beretika, relijius, dan memiliki kepedulian sosial tinggi."Secara pengertian mabrur memang hanya diperoleh oleh mereka yang melaksanakan ibadah haji. Namun dua sifat kemabruran memberikan makan/sodaqah dan menyebarkan perdamaian/ucapan baik, bisa ditularkan kepada tetangga, kerabat, saudara, dan orang-orang di sekitarnya," ujar mengingatkan hal tersebut, Daker Bandara tahun ini mengeluarkan surat edaran menjaga kemabruran haji kepada jamaah ketika akan pulang ke Tanah Air. Surat edaran itu diberikan kepada Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia TPIHI saat berada di bandara Arab Saudi untuk disampaikan kepada seluruh anggota kelompok terbang kloter.Surat itu berisi tiga aspek. Pertama aspek pribadi, seperti salat tepat waktu, melaksanakan ibadah sunah, berhias diri dengan sifat-sifat terpuji, cepat bertaubat apabila bersalah. Kedua aspek ubudiyah, misalnya meningkatkan kualitas salat fardu, melaksanakan salat dan puasa sunnah, membiasakan tilawah Alquran, memberikan zakat, infaq, dan sadaqah. Ketiga aspek sosial, yakni membiasakan diri salat berjamaah, menyantuni yatim piatu, menjenguk orang sakit dan meninggal, serta mendamaikan orang berselisih."Saya kira kita kan manusia sering lupa, selalu harus terus diingatkan. Mudah-mudahan dengan mengingatkan itu, ketika di pesawat atau ketika tiba di embarkasi, jamaah ingat ada edaran tentang mabrur haji, mudah-mudah itu juga bisa dipraktikkan dalam kehidupan jamaah haji pada periode setelahnya," ujar Arsyad.pur

ucapan yang baik akan membawa kepada akhlak